Langsung ke konten utama

Kembali Pulang

 Haloooo, I’m back!

Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password. Ironis? Tenang, ini baru pemanasan.

Sebenarnya aku ahli dalam selective memory. Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu.

Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate: coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu.

Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Udah kayak wangsit, kayak ilham, atau lebih tepatnya: notifikasi telat dari otak yang akhirnya update juga. Setelah sedikit googling (iya, aku googling istilah psikologi supaya kelihatan ilmiah), ternyata ada istilahnya: subconscious memory. Intinya, otak kita itu ibarat gudang logistik dengan banyak rak berisi ingatan-ingatan, tapi kita selalu salah rak. Suatu hari, petugas gudang (otak bawah sadar) keluyuran dan nyeletuk, “Bro, ingatan sandimu ada di rak yang di pojokan.”

Makasih ya otak bawah sadar.

Masuk kembali sini itu rasanya seperti pulang ke rumah lama. Ada rasa malu dan geli ketika baca-baca tulisan lama, kok ya beberapa judul dan isinya penuh dengan krisis eksistensial plus tanda tanya panjang tapi ada juga hangat yang anehnya nyaman. Blog ini jadi saksi bisu kebodohan-kebodohan, keresahan-keresahan, dan joke-joke yang hanya lucu buat aku sendiri.

Mungkin kedepannya, aku akan hidupkan kembali sudut kecil internet ini dengan cerita-cerita baru: receh, satire, dan mungkin sedikit refleksi. Biar kalau suatu hari lupa lagi (kemungkinan: tinggi), minimal ada jejak yang bilang, “Eh, dia pernah hilang lama tapi akhrinya pulang lagi ke sini, kok.”

Dan pelajaran moralnya? Simpan password di otak saja nggak cukup. Minimal di catat di buku yang nggak diberi label ‘penting’ biar otakmu nggak sok sibuk. Atau lebih gampang: gunakan manajer password. Eh tapi tunggu, kalau dipikir-pikir dimana serunya kalau hidup kita terlalu teratur?

Sampai akhirnya aku memutuskan mempercayai otak tolol ku (lagi dan lagi) bagaimana  jika lupa lagi nanti? Mungkin. Tapi setidaknya sekarang ada cerita untuk diceritakan. Dan aku percaya jika seandainya aku lupa lagi, otak bawah sadarku akan kembali mengingatkanku lagi, meski tak bisa dipastikan jangka waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...