Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Esai: Sarjana baru, paradigma baru

Lulus kuliah langsung dapat kerja? Maunya sih gitu, tapi realitanya jauh dari yang begitu-begitu. Apalagi jika kamu hidup di negara berflower. Aish, tak semudah itu ferguso!(hehe)    Sekedar informasi, dari data kementrian riset, teknologi dan pendidikan tinggi mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran adalah lulusan sarjana. Itu berarti ada sekitar 630.000 lulusan sarjana yang menganggur di negeri ini.    Oke, sampai sini mau tak mau kita harus bersepakat jika di negeri berflower, gelar ijazah perguruan tinggi negeri ataupun swasta dengan embel-embel IPK bagus bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah.    Jumlah angka lulusan sarjana tiap tahun yang melonjak tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja  seolah menjadi kambing hitam penyebab membludaknya sarjana pengangguran di negeri ini. Padahal, ada banyak faktor-faktor lain selain kurangnya lapangan kerja.   Menurutku, yang menjadi persoalan p...

Esai: Menikah. Tuntutan atau Kemampuan?

“Kapan nikah?” “Udah nikah?” Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan sederhana diatas ibarat ancaman serius yang bisa membuat tidur tidak tenang, nafsu makan menghilang, dan susah BAB. Dan aku, adalah salah satu dari sebagian orang-orang itu (cuk, hahaha) Sudah nggak kehitung lagi, pertanyaan 'kapan nikah?' atau 'udah nikah?' keluar masuk kuping dan menusuk-nusuk kalbu, hati dan pikiran. Yang nanya pun udah ga kepalang tanggung! dari generasi lintas zaman! dari mulai kakek, nenek, orangtua, kakak, adek, om, tante, atau bahkan orang yang baru kita kenal (yang terakhir paling nyebelin sih). Ya, seringnya pertanyaan 'kapan nikah?' dan 'udah nikah?' adalah sebuah titik kritis dimana segalanya menjadi 'menyebalkan' Di negeri berflower, saat seseorang mencapai usia layak nikah ataupun pasangan yang udah pacaran lama, pertanyaan tentang masa depan bukan lagi menjadi sebuah personal interest yang bersifat exclusive private . Tapi, j...

Flash Fiction : Pemenang

“Han, dia pergi begitu saja, setelah menyerap energi dan waktu ku hingga tandas.” “Kau harus menerima resiko itu. Kan, sudah jauh-jauh hari kubilang, jangan pernah sekalipun berurusan dengan manusia hasil evolusi lintah seperti dia, kau saja yang terlalu keras kepala hingga kupingmu tersumbat akan nasehat-nasehat dari sekitarmu.” “Aku sudah kalah, sudah hampir habis semuanya, hanya tersisa penyesalan dan kesedihan. Apa yang harus kulakukan sekarang, Han?” “Kalau kau masih merasa dirimu sebagai manusia, hal yang sekarang kau risaukan itu adalah normal. Kalah, penyesalan, dan kesedihan. Semua manusia hidup, akan dan harus mengalaminya. Dan, tentang apa yang harus kau lakukan sekarang... ah, ya tentu saja kau harus memulai tersenyum.” “Hanya orang gila yang tersenyum disaat kalah dan ditinggalkan.” “Jangan mengejek orang gila. Coba lihat dirimu sekarang, otak dan hatimu lebih berantakan dari orang gila.” “Aku tau itu, tapi...” “Sudahlah, lakukan saja... kau harus tersenyum,...

Cuma Cerita

Belakangan ini aku sedang familiar dengan nasehat-dan-menasehati-dan-dinasehati. Siklus itu secara nggak langsung sudah membuatku sadar jika  "Memang lebih mudah memberi advice ke orang lain daripada ke diri sendiri" Sebagai teman yang baik, aku selalu berusaha untuk membantu teman-temanku yang sedang berada dalam problematika kehidupan (haha agak terdengar narsis dan sok baik). Tapi memang begitulah, dari dulu aku memang merasa membantu orang-orang baik dan dekat di sekitarku adalah hal yang sangat penting. Mungkin dikarenakan sifatku yang responsif berbanding lurus akan sikap orang lain. Maksudnya, kalau orang lain baik kepadaku, aku pasti berusaha supaya bisa sama baiknya, atau bahkan lebih ke orang itu. Begitu juga sebaliknya, kalau orang lain jahat, ya akupun bisa jahat juga. Bahkan bisa lebih jahat berkali-kali lipat. Ya, ini terlihat seperti balas dendam yang menyedihkan, tapi menurutku, itu adalah hak ku untuk merespon. Karena menurutku, setiap orang it...