Bayangin seorang penulis di depan laptop: kursor kedip-kedip, kopi keburu dingin, tulisan tinggal dikit tapi ide udah buntu. Akhirnya buka ChatGPT buat bantu nyelesain. Di titik ini muncul dilema klasik: ini sekadar bantuan, atau sudah masuk wilayah curang? Kehadiran AI di dunia tulis-menulis memang bikin banyak orang resah. Ada yang takut kreativitas manusia ketiban mesin, ada juga yang menganggap AI jalan pintas yang terlalu nyaman. Tapi sebenarnya, pola ini bukan hal baru. Setiap teknologi baru hampir selalu datang barengan dengan harapan besar dan ketakutan yang sama besarnya. Penolakan terhadap AI sering dibangun dari skenario ekstrem: tulisan jadi seragam, suara personal hilang, dan penulis cuma jadi operator algoritma. Di dunia akademik, kecurigaan makin tajam—sedikit-sedikit dicap plagiarisme. Dari situ muncul pertanyaan moral: kalau pakai AI, masih layakkah disebut penulis? Padahal asumsi itu sering kebablasan. Kenyataannya, AI tidak selalu duduk di kursi pengarang. Dala...
Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...