Langsung ke konten utama

Menulis Pakai AI: Curang Nggak, Sih?

Bayangin seorang penulis di depan laptop: kursor kedip-kedip, kopi keburu dingin, tulisan tinggal dikit tapi ide udah buntu. Akhirnya buka ChatGPT buat bantu nyelesain. Di titik ini muncul dilema klasik: ini sekadar bantuan, atau sudah masuk wilayah curang?

Kehadiran AI di dunia tulis-menulis memang bikin banyak orang resah. Ada yang takut kreativitas manusia ketiban mesin, ada juga yang menganggap AI jalan pintas yang terlalu nyaman. Tapi sebenarnya, pola ini bukan hal baru. Setiap teknologi baru hampir selalu datang barengan dengan harapan besar dan ketakutan yang sama besarnya.


Penolakan terhadap AI sering dibangun dari skenario ekstrem: tulisan jadi seragam, suara personal hilang, dan penulis cuma jadi operator algoritma. Di dunia akademik, kecurigaan makin tajam—sedikit-sedikit dicap plagiarisme. Dari situ muncul pertanyaan moral: kalau pakai AI, masih layakkah disebut penulis?


Padahal asumsi itu sering kebablasan. Kenyataannya, AI tidak selalu duduk di kursi pengarang. Dalam praktik yang lebih realistis, ide, keresahan, dan sudut pandang tetap lahir dari manusia. AI biasanya baru masuk belakangan: bantu ringkas bacaan, cari referensi awal, ngecek istilah, atau merapikan kalimat. Perannya lebih mirip asisten atau editor awal, bukan penulis bayangan.


Kalau ditarik lebih luas, menulis memang sejak lama akrab dengan bantuan teknologi—dari kamus sampai autocorrect. AI cuma kelanjutan dari itu. Jadi masalah utamanya bukan alatnya, tapi cara pakainya. Selama kendali gagasan dan tanggung jawab intelektual tetap di tangan manusia, AI bukan ancaman. Ia cuma alat: bisa membantu atau merusak, tergantung siapa yang memakai dan untuk tujuan apa.

***

Yak, gimana? Cakep? Rapi? Logis? Ngena? Enak dibaca?☺

Ya iyalah. Tulisan di atas itu full hasil dari ChatGPT pro, tinggal ketik prompt: “anggap kamu sebagai pembuat esai profesional, tolong buatkan esai pro-kontra penggunaan AI dalam karya tulis, pakai teknik show don’t tell, bahasanya kekinian, rapi dan terstruktur.”

Lalu, biar hasilnya tidak terlalu keliatan ChatGPT banget, aku edit dikit-dikit wkwkwkw

Mungkin bagi sebagian pembaca awam, membaca artikel buatan AI sangat membuat nyaman. Ya gimana ga nyaman lha wong tulisannya jelas, terstruktur dan rapi, lebih bisa memanjakan mata dan meringankan kerja otak ketimbang harus membaca tulisan amatir yang acak-kadut melantur kesana-kemari.

Tapi mungkin bagi para pembaca yang sudah terbiasa membaca karya orisinal hasil kontemplasi manusia. Saat membaca tulisan AI akan terasa sangat kering dan miskin esensi. Meskipun isinya berbobot dan dinarasikan dengan sangat indah dan ‘basah’ tapi tetap saja kayak masih ada yang kurang. Ibarat kata kayak makan makanan hotel bintang lima: plating-nya cakep, rasanya sopan, tapi pulang-pulang masih terasa lapar dan tetep kangen warteg.

Kalau ditanya pendapat pribadiku soal apakah salah menggunakan AI buat nulis draft karya tulis? sebenernya nggak salah dan ngga terlarang juga sih. Bebas, sakkarepmu, lha wong ide dan topiknya juga masih tetep dari manusia yang ngetik promptnya. Di titik ini, aku setuju.

Namun, bila kau tanya apa aku pakai AI untuk penulisan draft dan revisi karyaku sendiri? aku akan tegas menjawabnya: tidak. Kenapa? Nggak tau juga. Sebenernya, pengen juga sih menggunakan AI supaya tulisanku lebih bersayap-sayap, lalu terbang hehehe.

Terdengar paradoks bukan?

Sebagai orang yang suka nulis, aku merasa ganjil dan rasa ga etis aja kalau draft dan revisi karyaku dibantu AI. Rasanya kayak nyerahin “anak sendiri” buat dicabuli robot. Lebay? Bisa jadi. Tapi aku cuma pengin apa pun yang kutulis lahir murni dari kepalaku sendiri. Mau seaneh, sejelek, seserampangan apa pun hasilnya. Aku terima.

Tapi tenang, aku bukan anti-AI garis keras. Toh saat proses berkarya aku masih pakai AI buat riset. Karena jujur aja, ini jauh lebih ngebut daripada googling atau mantengin buku satu-satu di perpus. Aku juga pakai AI buat ngecek EYD, karena males aja buka KBBI.

Jadi begitu...

Nah, sekarang, apakah kalian bisa menebak tulisan setelah tanda dinkus ini pake AI atau hasil karya sendiri?

Coba tebak?

Bisa?

Bingungkan? Ya, yang kali ini pun tulisan AI

TAPI BOONG wkwkw

Tenang saja, opini setelah tanda dinkus itu tulisanku sendiri kok.

Dan yah, mungkin memang ke sanalah kita akan tiba.

Sebagai pembaca, akan ada satu masa, entah sebentar lagi atau malah sudah terjadi, di mana kita akan “dipaksa”, atau lebih tepatnya “terpaksa”, menerima satu kenyataan sederhana: kita nggak lagi bisa benar-benar yakin mana tulisan manusia, mana tulisan mesin.

Sebagai seorang penulis amatir, dititik ini aku sadar, di tengah gempuran tulisan AI, yang dipertaruhkan kini bukan lagi soal teknis menulis, tapi soal kehadiran. Dan kalau suatu hari semua tulisan jadi rapi, indah, dan terasa “benar”, barangkali justru saat itulah tugasku sebagai penulis berubah: bukan lagi menyaingi mesin, tapi bertahan sebagai manusia yang masih berani menulis dengan cacatnya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...