Beberapa hari terakhir, timeline ig rame
banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot
Trans7. Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah
sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen
itu pada ngamuk.
Video itu menampilkan adegan para santri
yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti
sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan
“memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan
emosi pun terjadi.
Namun, di tengah keramaian itu, aku
justru merasa perlu bertanya:
Benarkah yang salah hanya videonya? Atau
jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita
remehkan atau bahkan kita abaikan?
Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan
pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk.
Menghormati guru itu wajib, tapi mengkultuskan manusia hingga di luar batas
kritik? Itu menurutku bukan adab, itu penyimpangan dari adab.
Masalahnya, di banyak pesantren, batas
antara hormat dan kultus itu sering kali kabur. Kiai ditempatkan di posisi “tak
tersentuh,” seolah setiap kata dan tindakannya pasti benar. Di sisi lain, aku
juga tak menutup mata bahwa banyak juga pesantren yang benar-benar menjadi
tempat mulia, tempat anak-anak belajar adab, ilmu, dan kehidupan. Tapi bukankah
justru karena pesantren sedemikian mulia, kita berhak menuntutnya lebih
transparan, lebih terbuka pada kritik?
Yang membuatku “ga habis pikir” adalah
ketika sebuah video dianggap menghina kiai, puluhan ribu suara langsung bersatu
membela. Tapi ketika ada kasus bullying, kekerasan, pelecehan seksual, atau bahkan kematian santri
akibat bangunan ambruk, suara itu mendadak hilang. Tak ada
seruan boikot, tak ada gelombang protes. Seolah-olah diam adalah bentuk
tertinggi dari takzim
Kadang aku jadi mikir, apakah adab hanya
berlaku ke atas, bukan ke sesama?
Masalah ini tentu tidak berhenti di
ruang lingkup pesantren saja. Pemerintah pun, menurutku, punya andil besar
dalam keributan ini.
Kenapa pemerintah? Karena mereka otoritas
tertinggi di negeri ini, istilah kasarnya, mereka yang bikin sistem. Dan kalau
sistemnya semrawut, wajar kalau akar masalahnya ikut kusut.
Ya, semua balik lagi ke soal sistem.
Menurutku, masalah ini bukan cuma tentang mentalitas santri atau budaya di
pesantren, tapi juga tentang kegagalan pemerintah dalam
membangun sistem kepesantrenan yang jelas dan manusiawi.
Fakta dilapangan, banyak pesantren di
Indonesia yang overkapasitas. Pembangunan asal-asalan,
ruang belajar sempit, asrama padat, ventilasi buruk, sanitasi minim. Dalam
kondisi seperti itu, penyakit kulit seperti gatal dan kudis sering menyebar
dengan mudah.
Lucunya, di masyarakat sudah beredar selentingan yang menganggap hal itu
sebagai “fase wajib santri.” Katanya, kalau belum pernah kena penyakit kulit,
belum sah disebut santri.
Sebuah lelucon yang terdengar ringan, tapi sebenarnya pahit, karena di
baliknya, kita sudah menormalisasi ketidaklayakan.
Lebih miris lagi, banyak pesantren
berdiri tanpa regulasi yang jelas. Pemerintah seperti tak punya peta pasti
tentang berapa jumlah pesantren yang benar-benar memenuhi standar keamanan dan
kesehatan. Siapa pun bisa mendirikan pesantren asal punya lahan dan pengikut.
Tidak ada sistem akreditasi, tidak ada standar kesehatan yang wajib dipenuhi,
tidak ada audit kelayakan bangunan. Dan ketika musibah terjadi, semua pihak
membisu, semua pihak sibuk cuci tangan.
Ironisnya, menjelang pemilu, pesantren
justru mendadak jadi tempat paling ramai dikunjungi politisi. Mereka datang
membawa senyum dan janji, menjabat tangan kiai dengan hormat, sebab mereka
tahu: suara kiai = suara santri = suara massa.
Pesantren, yang seharusnya jadi tempat
menumbuhkan nalar dan moral, justru seringnya dijadikan lumbung suara politik
Aku tidak sedang menyerang pesantren.
Aku sedang menyerang budaya yang membuat manusia berhenti berpikir kritis atas
nama hormat. Karena hormat yang sejati tidak menutup mata terhadap kebenaran. Dan
cinta terhadap lembaga pendidikan bukan berarti membela mati-matian tanpa
introspeksi, melainkan berani menuntut perbaikan
Waktunya upgrade! kita butuh pesantren
yang terbuka terhadap kritik, pesantren yang mampu menyeimbangkan antara adab
dan akal sehat. Pesantren yang benar-benar mendidik, bukan hanya menanamkan
ketaatan buta. Sebab bila takzim berubah jadi kultus, dan diam dianggap bentuk
kesalehan, maka pesantren justru berisiko kehilangan makna sucinya sendiri.
Jadi, ketika orang-orang sibuk
menyerukan boikot Trans7, aku justru berpikir: mungkin
yang perlu kita “boikot” bukanlah stasiun televisinya, tetapi kebiasaan menutup mata terhadap kebenaran.
Sebab dari diam dan ketakziman berlebihan itulah, lahir feodalisme yang tak pernah kita sadari tapi terus kita pelihara dengan nama yang sangat manis, yaitu: ADAB
Komentar
Posting Komentar