Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh.
Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu.
Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seolah-olah jika kita berani mengambil dan membukanya, maka dunia akan berubah lebih baik. Namun, di balik itu kita juga sama-sama tau kalau ada intrik, manipulasi, perebutan kepentingan, hingga pengkhianatan di dalamnya. Dari satu pintu yang mengaku “jalan menuju nirwana”, keluarlah banjir kekecewaan yang tak kelihatan ujungnya.
Dan di sinilah letak keironianya: meski kita tahu kotak itu berisi lebih banyak bencana daripada berkah, kita tetap tak bisa menahan rasa ingin tahu, bahkan terkadang tergoda untuk membuka dan ikut serta. Sama seperti Pandora, manusia memang punya naluri untuk selalu berharap. Barangkali nirwana itu ada, barangkali kali ini hasilnya berbeda. Namun setiap kali kotak dibuka, kita kembali menemukan pola lama; konflik, korupsi, polarisasi, dan keputusasaan.
Akhirnya, politik praktis tak lagi sekadar ruang perebutan kekuasaan, melainkan arena uji kesabaran batin. Di satu sisi, kita tahu bahwa perubahan struktural mustahil hadir tanpa politik. Di sisi lain, kita menyadari bahwa terlalu banyak harapan yang tenggelam di dalamnya. Politik praktis memperlihatkan wajah asli manusia; rakus, ambisius, tetapi juga penuh harapan yang tak pernah padam.
Mungkin inilah takdir kita. Bahwa untuk menemukan satu nirwana, kita harus berani menanggung sembilan puluh sembilan bencana. Pertanyaannya hanya satu: apakah nirwana itu nyata, atau hanya ilusi yang membuat kita terus bertahan membuka kotak yang sama, lagi dan lagi?
Komentar
Posting Komentar