Langsung ke konten utama

Tentang siapa aku dan tentang siapa aku dipikiranmu

Mempertanyakan sesuatu adalah hal yang sangat harus bagi seorang manusia dewasa yang sadar akan suatu ketidakbiasaan. Kritis; bahasa umumnya. Dan ini adalah pertanyaan-pertanyaan terpendam di pikiranku. Tentang siapa aku dan tentang siapa aku dipikiranmu.

SIAPA AKU?

Diri sendiri adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipertanyakan. Oleh sebab realita hidup setiap manusia berbeda-beda. Aku dan kamu; BEDA. Aku dan kalian; BEDA, dan aku dengan merekapun; BEDA. Setiap individu punya kendali masing-masing, punya kealotan masing-masing dan... punya keakuan yang paling labil sedunia ; masing-masing dalam hidupnya.

Mempertanyakan diri sendiri itu bagiku adalah hal yang penting sebab menurutku itu adalah salah satu cara yang efektif bagi seorang manusia dewasa untuk berkontemplasi menjadi manusia yang terus-menerus berproses menjadi lebih baik.

Celakanya, masih ada banyak orang yang sengaja tidak mau mengenali dirinya sendiri, egoisme yang membutakan mata hati dan pikiran. Membuat mereka dengan mudahnya, entah itu disengaja ataupun tidak; Menyakiti, memusuhi bahkan sampai mencelakai orang lain dengan sangat hebat. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka.

Bagiku, untuk mengenali diri sendiri kuncinya terletak pada lingkungan sekitar atau circle terdekat kita. Dimana disitu terdapat banyak figur manusia-manusia lain dengan beragam karakter, sifat dan kehidupannya masing-masing yang secara alamiah tampil di kehidupanku.

Selayaknya panggung teater, lingkungan sekitarku diisi oleh figur-figur dengan beragam karakter; Protagonis, Antagonis dan Tritagonis. Ada figur terbaik dan ada pula figur ter'jancuk' (hahaha). Mataku melihatnya, telingaku mendengarnya, hati dan pikiranku mencernanya. Dan sudah kodrat alam, aku harus berbagi panggung dengan mereka semua tanpa bisa memilih.

Ada beberapa figur dari manusia-manusia itu yang telah berhasil membuatku jatuh cinta, terintimidasi, insecure, iri, terinspirasi, bangkit lagi, hilang percaya diri, atau bahkan merasa biasa-biasa saja.

Figur terbaik membuatku sadar akan pentingnya berbuat kebaikan dan cinta kasih terhadap sesama, sementara Figur ter'jancuk' membuatku gemetar karena hal-hal buruk yang pernah kulakukan pada mereka, pun kebalikannya, hal-hal buruk yang sudah mereka lakukan terhadapku.

Akulah yang seperti ini, yang akan ikut berputar secara alamiah, bersamaan dengan mereka-mereka yang lain itu, bahkan bersama figur-figur terbaik ataupun ter'jancuk' itu.

Akulah yang baru seperti ini, yang baru sampai tahap ini, yang akan berhenti menggadang-gadangkan diri, dan memulai untuk menggadang-gadangkan apa yang bisa aku perbuat, aku ciptakan, dan aku berikan untuk suatu kebaikan pada sesama. 

Akulah yang memang masih seperti ini, masih mempertanyakan, masih mencoba kritis akan diri sendiri. Siapa aku. Siapa aku sampai berhak mengkritisi segala-gala. Siapa aku sampai berani untuk yakin kalau besok nanti akan ada aku yang besar juga seperti mereka; Figur terbaik dihidupku. Siapa aku sampai berhasil bicara dan berbangga karena suatu pencapaian dan penyikapan yang bijaksana. Siapa aku sampai bisa tersenyum dengan bahagia dan puas saat menutup semua yang aku awali di kehidupanku ini.

Pada intinya, aku versi ini puna mau yang baik, punya siap yang tak terlampau, punya mengerti yang tentu saja siap menerima ketidabisaan, dan punya senyum untuk kuberikan pada siapapun yang berhati baik.

Dan aku hanya Potensi... bukan sebuah Pasti.


SIAPA AKU DIPIKIRANMU?

Melihat seorang aku dipikiranmu adalah sesuatu yang bisa aku bilang gak mudah.

Kalau boleh menebak 'siapa aku dipikiranmu?' biasanya adalah versi JADI dari suatu citra. Bukannya aku tidak mau mengenal lebih dekat citra itu. Bukannya tidak mau memilih untuk terjebak dalam definisi subjektif publik. Tapi aku hanya punya waktu 24 jam satu hari. Kerja, kegiatan, keep in touch with those I've had, Quality time buat diri sendiri, keluarga dan beberapa hal baru yang membuatku sendiri masih bingung bagaimana harus menyikapinya.

Kamu-kamu itu banyak sekali. Dan aku bukan amuba yang bisa membelah diri dan bukan juga seorang pengidap kepribadian ganda. Satu hal yang harus kamu tau, 'aku dipikiranmu' sebenarnya punya hak untuk dinilai dan dipandang lebih objektif, lebih dekat dan lebih adil.

Tapi balik lagi, aku sadar diri jika gak ada yang bisa memaksa untuk membuat semua orang suka akan sosok aku sebagai citra publik. Gak ada satupun yang bisa. Ditambah lagi kalau memang banyak alasan yang 'menghitamkan' seorang aku yang sebenarnya di dalam pikiranmu. Alasan yang bisa kamu pilih sendiri untuk dimiliki, atau memang kamu ga pernah punya daya untuk di beri pilihan.

Boleh dibilang 'siapa aku dipikiranmu' adalah kamu. Citra publik itu berdefinisi sendiri, dan gak ada satupun citra publik akan diriku yang 100% salah. Citra diriku di pikiranmu ada karena kamu sendiri. Masalahnya, apa kamu mau dan mampu memberikan effort untuk mengarahkan citra itu ke track yang seharusnya?

Berbicara mengenai 'siapa aku dipikiranmu' berarti aku sedang punya sparing partner to talk to. Ada lebih dari satu otak dan satu hati yang terlibat, yang punya ruang interaksi masing-masing selain ruang tempat berbicara tentang 'aku dipikiranmu' ini. Harusnya ada penilaian yang lebih 'kaya' disini. Kalau penilaiannya malah jadi makin saling menyesatkan, itu namanya jadi gossip.

Aku tau, sosok 'aku dipikiranmu' ini juga masih sering jadi bahan gossip. Sesuatu yang masih sangat harus kuperbaiki, setidaknya untuk meminimalisir gossip. Perbaiki kualitas sikap. Perbaiki kualitas bicara. Perbaiki kualitas bahasa. Dan perbaiki kualitas circle yang diajak bicara. Sangat mempengaruhi, eitherway dalam menilai 'aku dipikiranmu' or dalam menjawab pertanyaan 'siapa aku dipikiranmu' ke diri sendiri juga.

Karena memang begitulah hidup. 'Aku dipikiranmu' sejatinya adalah lambang dari kehidupan yang lebih detil dan intim. Eksklusivitas ada karena memang ada banyak hal yang ga bisa dipaksakan untuk jadi serupa, karena memang BEDA. Yang bikin jelek itu kan kalau yang beda-beda itu saling bergosip dan saling menyakiti. Dan yang jelek adalah yang gak punya kualitas, yang lama kelamaan akan didepak oleh pusaran, karena pusaran bertidak dengan karakter dan sikap paling general dalam kehidupan: membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. titik.

Kesimpulannya.

Terlepas dari pertanyaan siapa aku? dan siapa aku dipikiranmu?, untuk saat ini hidupku masih dalam proses berubah. Dan masih akan terus berubah. Berubah untuk bisa menjawab SIAPA-SIAPA tadi... karena jujur aja, kalau aku tetap bertahan dengan konsepsi lama, banyak yang akan tidak bisa kuterima dan ujung-ujungnya malah bisa menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Namun aku sadar, aku adalah orang yang keras kepala. Konsepsiku hanya bisa dirubah oleh realita. Bukan argumentasi subjektif dari SIAPA.

Tapi satu hal yang SANGAT AMAT aku jaga untuk tidak berubah, tetap seperti yang selama ini ada. Hal itu adalah;

Aku tidak boleh jadi orang yang GAK JUJUR ke diri sendiri dan ke orang lain. I know, aku harus bisa nempatin diri, gak semua tempat dan semua SIAPA bisa dengan mudahnya nerima kejujuranku. Tapi itu adalah hanya sebatas bagian dari dariku yang melihat realita. 

Mudah-mudahan waktu bakal mengajariku untuk membuat batasan relaita dan kejujuran itu... mudah-mudahan hari esok dan selanjutnya akan tersus memberikanku waktu-waktu dan kesempatan-kesempatan untuk terus mengenal sekaligus menjadikanku lebih baik dari sekarang.


Kenalilah dirimu, maka engkau akan mampu membuka dunia.
-Socrates- 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...