Langsung ke konten utama

Esai: Sarjana baru, paradigma baru

Lulus kuliah langsung dapat kerja? Maunya sih gitu, tapi realitanya jauh dari yang begitu-begitu. Apalagi jika kamu hidup di negara berflower. Aish, tak semudah itu ferguso!(hehe)
   Sekedar informasi, dari data kementrian riset, teknologi dan pendidikan tinggi mencatat sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran adalah lulusan sarjana. Itu berarti ada sekitar 630.000 lulusan sarjana yang menganggur di negeri ini.
   Oke, sampai sini mau tak mau kita harus bersepakat jika di negeri berflower, gelar ijazah perguruan tinggi negeri ataupun swasta dengan embel-embel IPK bagus bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah.
   Jumlah angka lulusan sarjana tiap tahun yang melonjak tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja  seolah menjadi kambing hitam penyebab membludaknya sarjana pengangguran di negeri ini. Padahal, ada banyak faktor-faktor lain selain kurangnya lapangan kerja.
  Menurutku, yang menjadi persoalan pengangguran di tingkat sarjana itu bukanlah persoal kurangnya lapangan pekerjaan, melainkan masalahnya ada pada si sarjana itu sendiri.
Boleh setuju atau tidak, menurutku persoalan utama justru ada pada paradigma berpikir sarjana itu sendiri.
   Seperti sudah menjadi semacam ‘habit’ jika para lulusan sarjana hanya berkeinginan menjadi pencari kerja dan jarang ada yang berkeinginan menjadi pencipta lapangan kerja. Seringnya, ijazah sarjana justru membuat orang cenderung terlalu banyak memilih-milih pekerjaan karena menganggap dirinya memiliki kompetensi jauh lebih unggul daripada lulusan SMA/SMK.
   Ya, menurutku disitulah letak permasalahan sebenarnya.
  Sebut saja namanya Z, dia adalah teman satu kos waktu aku merantau ke jakarta beberapa tahun lalu. Si Z ini adalah lulusan sarjana ekonomi sebuah universitas negeri paling tersohor di negeri ini. Inisial kampusnya UI (hehehe).
   Secara logika tentu tidak sulit baginya untuk mencari pekerjaan dengan gaji tinggi, mengingat IPK nya yang lumayan bagus didukung pula dengan kredibilitas almamaternya. Namun kenyataan berkata lain, negeri berflower selalu mempunyai caranya sendiri untuk menjungkir-balikkan logika manusia.
  Waktu itu, sudah hampir 5 bulan si Z jadi pengangguran. Tak terhitung berapa banyak lamaran kerja yang sudah ia kirim ke perusahaan-perusahaan. Tak terhitung juga berapa kali ia menghadiri interview kerja yang berujung pada penolakan-penolakan pahit.
   Suatu sore saat aku pulang kerja aku mendapati Si Z sedang murung di depan kosan. Jiwa ke-kepo-anku langsung muncul. Segera kuhampiri dan bertanya kenapa dia bisa murung seperti itu. Dia pun kemudian bercerita, pada intinya hari ini dia interview pada sebuah perusahaan dan diterima.
   Akupun heran, bukannya seharusnya dia senang, tapi kenapa malah murung?.
   Si Z pun melanjutkan ceritanya. Singkat cerita ternyata di terima di sebuah perusahaan outsourcing sebagai supervisor office boy dengan gaji dibawah UMR. Nah, sekarang dia bingung apakah mau menerima pekerjaan itu atau tidak.
   Ya, sekarang aku paham kenapa dia murung. Tak lain tak bukan adalah GENGSI. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia hanya dihargai sebagai supervisor OB dengan gaji di bawah UMR. Baginya, itu mungkin sebuah aib.
   Dia lalu tanya pendapatku. Aku jawab saja agar dia menerima pekerjaan itu. Terlepas dari gelar sarjana dan embel-embel Universitas Indonesia, Si Z adalah lulusan baru yang minim pengalaman kerja. Dengan kata lain, dia masih belum memiliki nilai lebih yang bisa di negosiasikan dengan HRD.
Jika menuruti gengsi, maka dia akan menjadi pengangguran seumur hidup. Gengsi adalah penyakit yang menyebabkan kebangkrutan dan keterpurukan umat manusia.
   Persoal gaji yang masih dibawah UMR, bagiku juga bukan masalah yang serius. Si Z adalah lulusan Sarjana Ekonomi, Universitas Indonesia pula, seharusnya dia tau betul jika orang yang berhasil dalam aspek keuangan bukanlah orang dengan pendapatan tinggi, melainkan orang yang mampu mengolah berapapun pendapatannya menjadi nilai lebih dan mengontrol pengeluarannya.
   Pada saat itu aku hanya menasehatinya.”Udah terima aja kerjaan itu, anggap aja sebagai batu loncatan. Tabung sebagian gaji, kalo udah ngumpul buruan pulang kampung, buka usaha”.
Dengan berat hati, Si Z pun akhirnya menuruti nasehatku. Seingatku, Si Z bekerja hampir 7 bulan sebagai supervisor OB. Untuk menambah pendapatannya dia bekerja sambilan menjadi makelar jual-beli motor bekas. Lucunya, pendapatannya sebagai makelar motor justru jauh lebih besar dari gajinya sebagai supervisor.
   Setelah 7 bulan bekerja akhirnya dia resign dan memutuskan untuk pulang kampung untuk merintis usaha jual beli motor. 5 tahun berlalu, dari kabar terakhir yang ku dengar, saat ini dia sudah memiliki 4 showroom motor bekas di kampungnya.
   Mendengar kabar itu, sebagai seorang teman, aku ikut senang. Akhirnya, setelah melewati proses yang tidak sebentar, sekarang dia bisa menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah pada bisnisnya sendiri.
   Dari kisah si Z, banyak pelajaran yang bisa diambil utamanya untuk para sarjana-sarjana yang baru lulus agar tidak terlalu memaksakan diri mencari pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya sebab jika ingin menemukan pekerjaan sesuai dengan bidang keilmuan akademis yang dipelajari itu membutuhkan proses. Proses yang tidak mudah, bahkan berdarah-darah.
   Bagi sarjana muda, sudah waktunya mengubah paradigma berpikir. Sarjana baru, paradigma baru. Berhentilah memilih-milih pekerjaan. Semua hal butuh proses, tidak instan.
   Chairul Tanjung, CEO CT Corp. Beliau adalah seorang lulusan kedokteran gigi. Beliau tidak akan menjadi konglomerat seperti sekarang jika hanya mengandalkan pada ijazah dokternya. Taukah kamu pekerjaannya setelah lulus kuliah kedokteran? Menjadi dokter gigi? Salah. Hal pertama yang beliau lakukan setelah lulus kuliah adalah membuka toko peralatan kedokteran setelah sebelumnya membuka usaha fotocopy.
   Intinya, jangan sampai menjadikan ijazah sarjana menjadi benteng penangkis peluang-peluang baik. Jadikanlah ijazah sarjana sebagai jaring yang dapat menangkap semua peluang-peluang baik yang datang. Agar kita bisa berkembang dan berproses menjadi apa yang kita inginkan di masa depan nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...