Langsung ke konten utama

Esai: Menikah. Tuntutan atau Kemampuan?

“Kapan nikah?”
“Udah nikah?”

Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan sederhana diatas ibarat ancaman serius yang bisa membuat tidur tidak tenang, nafsu makan menghilang, dan susah BAB. Dan aku, adalah salah satu dari sebagian orang-orang itu (cuk, hahaha)

Sudah nggak kehitung lagi, pertanyaan 'kapan nikah?' atau 'udah nikah?' keluar masuk kuping dan menusuk-nusuk kalbu, hati dan pikiran. Yang nanya pun udah ga kepalang tanggung! dari generasi lintas zaman! dari mulai kakek, nenek, orangtua, kakak, adek, om, tante, atau bahkan orang yang baru kita kenal (yang terakhir paling nyebelin sih).

Ya, seringnya pertanyaan 'kapan nikah?' dan 'udah nikah?' adalah sebuah titik kritis dimana segalanya menjadi 'menyebalkan'

Di negeri berflower, saat seseorang mencapai usia layak nikah ataupun pasangan yang udah pacaran lama, pertanyaan tentang masa depan bukan lagi menjadi sebuah personal interest yang bersifat exclusive private. Tapi, juga jadi kepentingan orang-orang terdekat. Dalam banyak kasus, orang seringkali merasa baper ketika mendapat pertanyaan perihal kapan nikah.

Dulu aku juga pernah merasakan itu, selalu baper dan jengkel tiap kali ditanya 'kapan nikah' yang ujung-ujungnya aku jawab dengan nada ngegas,"ngapain sih nanya-nanya, emang mau ngebiayain?". Tapi seiring bertambahnya kedewasaan, pertanyaan itu selalu aku jawab dengan candaan."Bulan depan nikah, btw kalau kamu, kapan mati?" (hehehe)

Anyway, dalam banyak kasus, pertanyaan 'kapan nikah?' sudah bergeser konteksnya dari sekedar pertanyaan sederhana menjadi semacam tuntutan serius.

Bagi sebagian orang ketika mendapat pertanyaan itu, akal sehat mereka seolah langsung tertutup rapat bahkan ada beberapa dari mereka memaksakan diri untuk segera menikah tanpa memikirkan esensi pernikahan itu sendiri. Kalaupun akhirnya mereka menikah, mereka melakukannya bukan karena kesadaran diri, melainkan karena tuntutan eksternal.

Dan yang semacam itu, biasanya berujung pada PERCERAIAN.

Tuhan sudah memberikan anugrah kepada manusia sebuah otak dengan miliaran kapasitas untuk memproses apa-apa yang masuk ke kuping kita, sudah seharusnya kita mempergunakan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai hanya karena tuntutan cepat nikah dari orang-orang terdekat, pada akhirnya malah membuat nama kita tercantum di pengadilan agama sebagai pesakitan mantan manten (perceraian).

Ada beberapa orang yang selalu bilang: "jika sudah 'mau' dan sudah 'bisa' menikah, baiknya cepat-cepat menikah".

Jangan diseriusin.

Katakanlah sudah 'bisa' dan sudah 'mau' menikah. Next stage is... MAMPU, sebab banyak dari kita sudah melupakan kata itu, padahal dalam sebuah pernikahan hal terakhir itulah yang justru sangat penting. Kemampuan menikah, ada. Menanggung biaya pernikahan, bisa. And then...
Pertanyaannya, mampukah kita bertahan dengan orang yang sama (pasangan kita) sampai maut memisahkan? aku yakin, tak banyak dari kita yang bisa menjawabnya dengan mantap. Yah, mungkin saja sebagian dari kita bisa jadi ngeles,"mampu ga mampu urusan belakangan, yang penting jalanin aja dulu, manusia cuma bisa berencana, keputusan ada di Tuhan".

Mereka lupa, bagi orang tanpa kemampuan namun nekad membuat rencana, Tuhan selalu menyiapkan keputusan yang buruk di akhir scene.

Banyak orang yang menjadikan bisa dan mampu sebagai sinonim satu sama lain. Menurutku itu kurang tepat. Karena bisa, belum tentu mampu. Dan tidak seperti mau, mampu itu bukan pilihan. Mampu itu suatu hasil dari harmonisasi MAU dan REALITA. Dan manusia tidak bisa memilih realita. Manusia hanya bisa memilih untuk memperjuangkan suatu realita. Inilah yang menjadikan kata GAGAL ada di dunia.

Contoh kisah seorang temanku, sebut saja namanya A. Sebelum menikah, si A dan ceweknya berpacaran selama 5 tahun sampai akhirnya memutuskan akan menikah karena tuntutan si cewek dengan alasan klise; sudah lama pacaran, sudah mapan dalam pekerjaan, tekanan orang tua dan teman-teman si cewek sudah menikah semua.

Akhirnya merekapun menikah.

Seminggu kemudian, aku bertemu dengan pasangan pengantin baru itu. Pada saat itu, aku merasa keduanya sangat cocok. Ketika mendengar mereka membicarakan masa depan, sangat antusias! mereka bersepatak untuk MAMPU melakukan ini dan itu hingga kakek-nenek, semua melambung tinggi menjadi suatu mimpi yang luar biasa hebat.

Tapi akhirnya, tidak semua pasangan bisa merancang mimpi seperti itu, atau mungkin... tidak semua mampu.

Then, hold a second.. ada dunia yang punya kendalinya sendiri. Ada dunia yang menganut falsafahnya sendiri. Ada dunia yang menyeleksi kekuatan-kekuatannya sendiri.

Dan kira-kira setahun setelah pernikahan, tepatnya beberapa minggu yang lalu, si A meminta bertemu denganku. Kali ini dia sendirian. Sambil menangis, dia bercerita jika mimpi indah yang ia rajut bersama istrinya mendadak terhenti; terjebak dengan ironi kata MAMPU. Dia mulai terpikir untuk mencari kambing hitam; istrinya berubah lah, selingkuh lah, dan bla..bla.. bla.. yang bagiku terdengar mengada-ada. Padahal sebenarnya, masalahnya sederhana saja;
Dia dan Istrinya tidak MAMPU berharmoni. Mereka gagal menyelaraskan harmoni dalam berkomunikasi, harmoni dalam berkompromi dan harmoni dalam menekan ego pribadi.

Awalnya dia dan istrinya mengira segalanya akan menjadi baik saat sudah menikah (walau sebenarnya itu hanya ego untuk memuaskan tuntutan orang-orang terdekat). Meski begitu, mereka tetap yakin pernikahan mereka akan abadi karena selama 5 tahun berpacaran mereka mampu saling mencintai satu sama lain.

Tapi pada akhirnya, dan baru belakangan ini dia menyadari bahwa dalam pernikahan, cinta dan kesetiaan serupa masa pacaran, membuatnya harus membayar lebih dengan kehilangan besar di hidupnya; PERCERAIAN.

Berdasarkan data pengadilan agama, angka perceraian di provinsi Jawa Timur mencapai angka 121 ribu dalam setahun belakangan, tertinggi di seluruh provinsi negara berflower. Sungguh bukan sebuah prestasi yang patut dibanggakan karena boleh dibilang itu sangat memprihatinkan.

Bagiku menikah adalah ritual yang harus dilakukan sekali seumur hidup, sebuah ritual suci yang dapat menggugurkan cinta berkedok hawa nafsu dan lantas menumbuhkan kasih sayang hingga akhir hayat. Pada titik ini, seharusnya kita bisa bersepakat jika pernikahan bukanlah kompetisi saling mendahului untuk memperebutkan sebuah trofi, apalagi hanya karena tuntutan orang-orang sekitar.

Menikah adalah proses menyelaraskan hati dengan waktu; dilakukan dengan akal sehat bersama satu orang yang tepat di waktu yang tak terbatas.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...