Hollaa... kali ini aku akan share petualanganku ber-solo traveling ke kota Yogyakarta tanggal 2-6 Maret kemarin. Sebenarnya ini bukan kali pertamaku melakukan solo traveling, sebelumnya di bulan agustus kemarin aku pernah solo traveling ke Singapura selama 2 hari. Untuk ulasan selengkapnya akan kutulis pada blog berikutnya ☺
Sedikit flashback kebelakang, ketika memutuskan untuk melakukan solo traveling, banyak dari teman-temanku yang menganggapku sedang galau lah, aneh lah dan banyak juga yang mencibirku ansos (anti sosial), tapi ya bodo amat sih sebab alasan pribadiku memutuskan untuk solo traveling itu lebih karena ingin menantang diri sendiri untuk berpergian seorang diri dengan budget yang seminimum mungkin.
Menurutku, dengan ber-solo traveling, membuatku nggak terikat waktu dan tempat kunjungan, beda seperti kalau ikut rombongan tur gitu. Selain itu, hal yang paling menyenangkan dari solo traveling adalah aku bisa merdeka mengatur destinasi dengan sesuka hati tanpa mesti peduli dengan teman0teman yang kadang malah bikin ribet sendiri dan membuat liburan jadi sedikit menyebalkan.
Kenapa aku memilih Yogyakarta? So, kata orang Jogja adalah kota yang tepat untuk meletakkan sekeping puzzle kenangan akan hal-hal yang indah dari hidup kita. Hal itulah yang membuatku tertarik memilih Jogja sebagai destinasi kedua buat solo traveling. Aku ingin meletakkan sekeping puzzle kenangan indahku disana hehe. Nah, untuk solo traveling ke Jogja selama 4 hari 3 malam, aku menganggarkan budget hanya 850 ribu saja.
Gila lu! 850 ribu emang cukup buat 4 hari 3 malam di Jogja? sumpah cuma segitu? ya, mungkin kalian akan heran, awalnya aku juga sempat ragu apakah uang 850 ribu itu cukup buat liburan ke Jogja selama 4 hari 3 malam sebab dipikir pake logika apapun itu memang rada ga masuk akal, tapi nyatanya ITU CUKUP DAN SANGAT MASUK AKAL! Nggak percaya? kuy lanjut baca.
2 minggu sebelum keberangkatan, aku mulai menyiapkan segala sesuatunya, yang pertama adalah tiket kereta. Untuk menghemat budget aku sengaja memilih membeli tiket kereta ekonomi malabar dengan harga 90 ribu dari Malang-Jogja, sementara tiket pulang Jogja-Malang aku dapat harga 130 ribu. So, total transport kereta Malang-Jogja sebesar 220 ribu.
Setelah memesan tiket kereta, aku mulai browsing kos harian murah di Jogja. Nggak lama, aku sudah dapat kos harian tersebut, namanya Griya Tugu, lokasinya dekat pintu parkir stasiun tugu, berjarak 10 menit dari malioboro. Harga per malamnya 75 ribu dengan fasilitas cukup lengkap; kipas angin, tv, wifi, dan gratis kopi-teh sepuasnya. Tanpa ragu akupun segera booking untuk 3 malam dan langsung kubayar lunas di awal sebesar 225 ribu.
H-1 menjelang keberangkatan aku mulai menyiapkan barang-barang yang wajib kubawa saat backpacker. Tas ransel berukuran sedang cukup muat untuk 4 kaos, 2 celana pendek, 4 daleman, 1 celana panjang, sandal gunung, payung lipat, termos portable, perlengkapan mandi dan obat-obatan. Sementara tas selempang berisi charger hp, kamera pocket, rokok 3 pack dan netbook (sengaja bawa netbook biar sekalian bisa kerja ☺), total berat bawaanku sekitar 7 kilo.
Tibalah hari keberangkatan. Kereta malabar kelas ekonomi yang kunaiki berangkat dari stasiun Kota Baru Malang tepat pada pukul 4 sore. Meski berkelas ekonomi, namun kereta yang kunaiki cukup nyaman, baik itu dari segi kebersihan, keamanan, dan ketepatan waktu keberangkatan maupun kedatangan.
Perjalanan dari stasiun Malang ke stasiun Jogja kira-kira membutuhkan waktu selama 7 jam perjalanan. Nah, keuntungan naik kereta ekonomi adalah dengan adanya tempat duduk yang saling berhadapan, aku bisa ngobrol dan berbincang ngalor-ngidul dengan penumpang lain dan itu sangat efektif membuat perjalanan 7 jam terasa singkat dan tidak membosankan.
Hari ke 1
Kereta yang kutumpangi tiba di stasiun Tugu Jogja pukul 11.15 malam. Awalnya sempat bingung mau ngapain, sebab jam check in di kos harian masih sangat lama yaitu jam 1 siang. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu di smoking area sambil memakan bekal dari rumah yang belum sempat kumakan waktu di kereta tadi. Rencanaku, sehabis makan dan sebat, aku akan langsung keluar stasiun dan jalan-jalan menikmati malioboro tengah malam sembari ngopi menunggu pagi.
Setelah menghabiskan bekal dan sebat sebatang rokok, aku ngobrol dengan seorang bapak-bapak porter stasiun yang kebetulan sedang rehat dan sebat di smoking area, namanya pak Sardi. Kami ngobrol cukup lama. Nah, beliau inilah yang ngasih saran agar aku istirahat dulu di mushola stasiun sampai jam 4 pagi dan baru nanti setelah itu keluar stasiun, sebab menurut beliau, belakangan ini Jogja tengah malam sedikit kurang aman sebab sedang musim klitih.
Akhirnya kuputuskan menuruti saran dari bapak porter itu dengan istirahat terlebih dulu di mushola stasiun. Lumayan aku bisa tidur selama 2 jam. Pada pukul 4 pagi tepat aku keluar dari stasiun. Dari Stasiun Tugu, hanya diperlukan waktu 10 menit berjalan kaki untuk sampai Malioboro. Nah, nikmatnya jalan-jalan ke Malioboro jam 4 pagi itu kita bisa menikmati suasana Malioboro yang sepi dan magis, berbeda dengan suasana Malioboro di sore dan malam hari yang selalu padat pengunjung.
Setelah puas menikmati subuh di Malioboro bertemankan sisa kopi dalam termos portable dan tiga batang rokok, jam 7 aku melanjutkan perjalanan menuju Tugu Jogja. Dari Malioboro ke Tugu Jogja berjalan kaki kurang lebih 15 menit, lumayan jauh dan capek karena aku berjalan dengan masih menggotong tas ransel, tapi ya apa boleh buat, inilah seninya backpacker.
Sekitar jam 9.30 pagi, aku mendapat kabar baik, pemilik penginapan menghubungiku dan menginformasikan jika aku boleh langsung check in karena penyewa sebelumnya sudah check out (inilah nilai lebih kos harian daripada hotel; harga jauh lebih murah dan waktu check in bisa fleksibel). Tanpa menunggu lama, aku langsung bergegas menuju penginapan. Well, aku cukup puas dengan tempatnya, sesuai dengan deskripsi yang ada di internet. Selain itu, di sekitar kos juga terdapat banyak warung dengan harga makanan murah meriah dan enak!
Hari pertama di Jogja kebanyakan kuhabiskan di kamar kos karena sepanjang siang sampai sore Jogja diguyur hujan deras. Agak membosankan. Malam harinya aku kembali berjalan-jalan ke Malioboro, and then selama 3 hari kedepan, Malioboro adalah tempat nongkrong favoritku menghabiskan senja dan malam di Jogja (sah jadi anak senja hehehe)
Hari ke 2
Hari kedua di Jogja, aku memutuskan untuk pergi ke candi Borobudur. Aku berangkat dari kos jam 10-an (maklum ga bisa bangun pagi hehe). Untuk sampai ke Borobudur, aku memilih untuk naik transportasi umum yaitu transjogja rute 8 dari halte Jlagran ke halte terminal Jombor, ongkos transjogja sekali jalan 3.500.
Sesampainya di terminal Jombor aku lanjut naik bus ke arah borobudur dengan ongkos 20 ribu. Nama bus-nya Cemara Tunggal, berukuran kecil tanpa AC dan agak reyot (ngeri-ngeri syedap), persis kayak kopaja di Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya aku sampai juga di terminal Borobudur sekitar pukul 12 siang, disambut langit mendung dan angin sepoi-sepoi. Begitu turun dari bus, aku dikerumuni oleh tukang becak dan delman yang terus menerus mempromosikan jasanya. Dengan bahasa jawa halus yang belepotan, aku mencoba menolak tawaran mereka karena kupikir jarak antara terminal dan pintu masuk Borobudur tidaklah terlalu jauh.
Dan benar saja filingku, setelah bertanya kepada pak polantas, ternyata jarak antara terminal borobudur dengan pintu gerbang Borobudur memang tidak terlalu jauh, malah yang menurutku jauh adalah jalan menuju pintu masuk candi. Oh ya, btw tiket masuk ke borobudur harganya 50 ribu.
Setelah puas hunting foto selama hampir 2 jam di Borobudur, jam setengah 3 aku memutuskan untuk balik ke kos. Sebelum naik bus kusempatkan untuk makan terlebih dahulu, sengaja aku mencari makan di luar kawasan candi Borobudur sebab harga makanan di dalam kawasan candi harganya sungguh tidak manusiawi, maklum kawasan wisata.
Aku cukup beruntung karena menemukan sebuah tempat makan yang murah meriah tepat di pertigaan kawasan luar Candi Borobudur arah ke terminal. Aku lupa nama warungnya, tapi menunya cukup banyak dan rasanya lumayan enak. Tongseng dengan nasi dua porsi harganya cuma 13 ribu.
Nah, di warung itu aku tidak sengaja bertemu dengan seorang bapak-bapak supir pick up yang mengangkut buah-buahan. Namanya pak Karyadi. Setelah aku ngobrol-ngobrol dengan beliau ternyata beliau adalah orang Malang! Alhasil, karena sesama Arema, beliau menawariku tumpangan gratis hingga sampai ke terminal Muntilan. Kata beliau, kalau naik bus dari Muntilan ke Jombor hanya 7500 saja. Tanpa sungkan, aku langsung menerima tawaran pak Karyadi. Dan benar saja, sesampainya di terminal Muntilan, aku naik bus ke terminal Jombor hanya ditarik ongkos 7500 saja.
Sampai dikos sekitar jam 6 sore. Seperti biasa, setelah mandi, bersih-bersih dan menuang kopi di dalam termos portable, waktunya jadi anak senja Malioboro ☺
Hari ke-3
Hari ke 3 di Jogja, aku memutuskan untuk pergi ke tebing Breksi dan Candi Prambanan (karena masih dalam satu kawasan). Kali ini aku berangkat dari kos pukul 9 pagi. Berbeda dengan rute ke Candi Borobudur yang harus oper bus reyot, transportasi ke Tebing Breksi dan Prambanan jauh lebih simpel dan nyaman, cukup naik Transjogja dari halte Malioboro 2 rute 1-A langsung turun ke halte terminal Prambanan dengan estimasi waktu sekitar 40 menit.
Sesampainya di terminal Prambanan ke Tebing Breksi aku memilih untuk naik ojek, setelah mengeluarkan seluruh skill negosiasiku akhirnya aku berhasil mendapatkan harga yang memuaskan yaitu hanya 15 ribu saja, sementara baliknya dari Tebing Breksi ke terminal Prambanan, aku dapat tumpangan dari seorang wisatawan dari cirebon sebagai balas jasa karena aku beberapa kali memfotokan keluarga mereka. Terimakasi banyak atas tumpangannya pak Prayit dan keluarga ☺. Oh ya, tiket masuk ke Tebing Breksi GRATIS!
Setelah dari Tebing Breksi, aku berencana langsung ke Prambanan tapi sebelum itu aku menyempatkan untuk mencari makan di sekitar pasar Prambanan, sumpah harga makanan disini sungguh tidak masuk akal murahnya, bayangin aja soto daging, nasi dan es teh cuma seharga 10 ribu saja! Setelah perut kenyang barulah aku menuju ke Candi Prambanan. Dari pasar Prambanan ke pintu masuk candi jaraknya sekitar 800 meteran, lagi-lagi bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Sesampainya di loket masuk, aku tergoda untuk membeli tiket masuk terusan yaitu paket Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko seharga 75 ribu dan itu sudah termasuk antar jemput mobil. Dan ini diluar ekspetasiku, awalnya mengunjungi Keraton Ratu Boko tidak ada dalam list ku, tapi berhubung ada paket tur murah, kenapa tidak sekalian aku beli. Jadinya tidak hanya Candi Prambanan tapi aku juga ke Keraton Ratu Boko. Cukup menyenangkan.
Setelah capek berkeliling kompleks Keraton Ratu Boko dan Candi Prambanan yang cukup luas aku pun pulang sekitar jam setengah 4 dan nyampai kos jam 5 an karena jalanan sedikit macet. Seperti hari-hari yang lalu, setelah mandi dan bersih-bersih, aku membunuh waktu sore hingga malam di Malioboro.
Hari pertama di Jogja kebanyakan kuhabiskan di kamar kos karena sepanjang siang sampai sore Jogja diguyur hujan deras. Agak membosankan. Malam harinya aku kembali berjalan-jalan ke Malioboro, and then selama 3 hari kedepan, Malioboro adalah tempat nongkrong favoritku menghabiskan senja dan malam di Jogja (sah jadi anak senja hehehe)
Hari ke 2
Hari kedua di Jogja, aku memutuskan untuk pergi ke candi Borobudur. Aku berangkat dari kos jam 10-an (maklum ga bisa bangun pagi hehe). Untuk sampai ke Borobudur, aku memilih untuk naik transportasi umum yaitu transjogja rute 8 dari halte Jlagran ke halte terminal Jombor, ongkos transjogja sekali jalan 3.500.
Sesampainya di terminal Jombor aku lanjut naik bus ke arah borobudur dengan ongkos 20 ribu. Nama bus-nya Cemara Tunggal, berukuran kecil tanpa AC dan agak reyot (ngeri-ngeri syedap), persis kayak kopaja di Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya aku sampai juga di terminal Borobudur sekitar pukul 12 siang, disambut langit mendung dan angin sepoi-sepoi. Begitu turun dari bus, aku dikerumuni oleh tukang becak dan delman yang terus menerus mempromosikan jasanya. Dengan bahasa jawa halus yang belepotan, aku mencoba menolak tawaran mereka karena kupikir jarak antara terminal dan pintu masuk Borobudur tidaklah terlalu jauh.
Dan benar saja filingku, setelah bertanya kepada pak polantas, ternyata jarak antara terminal borobudur dengan pintu gerbang Borobudur memang tidak terlalu jauh, malah yang menurutku jauh adalah jalan menuju pintu masuk candi. Oh ya, btw tiket masuk ke borobudur harganya 50 ribu.
Setelah puas hunting foto selama hampir 2 jam di Borobudur, jam setengah 3 aku memutuskan untuk balik ke kos. Sebelum naik bus kusempatkan untuk makan terlebih dahulu, sengaja aku mencari makan di luar kawasan candi Borobudur sebab harga makanan di dalam kawasan candi harganya sungguh tidak manusiawi, maklum kawasan wisata.
Aku cukup beruntung karena menemukan sebuah tempat makan yang murah meriah tepat di pertigaan kawasan luar Candi Borobudur arah ke terminal. Aku lupa nama warungnya, tapi menunya cukup banyak dan rasanya lumayan enak. Tongseng dengan nasi dua porsi harganya cuma 13 ribu.
Nah, di warung itu aku tidak sengaja bertemu dengan seorang bapak-bapak supir pick up yang mengangkut buah-buahan. Namanya pak Karyadi. Setelah aku ngobrol-ngobrol dengan beliau ternyata beliau adalah orang Malang! Alhasil, karena sesama Arema, beliau menawariku tumpangan gratis hingga sampai ke terminal Muntilan. Kata beliau, kalau naik bus dari Muntilan ke Jombor hanya 7500 saja. Tanpa sungkan, aku langsung menerima tawaran pak Karyadi. Dan benar saja, sesampainya di terminal Muntilan, aku naik bus ke terminal Jombor hanya ditarik ongkos 7500 saja.
Sampai dikos sekitar jam 6 sore. Seperti biasa, setelah mandi, bersih-bersih dan menuang kopi di dalam termos portable, waktunya jadi anak senja Malioboro ☺
Hari ke-3
Hari ke 3 di Jogja, aku memutuskan untuk pergi ke tebing Breksi dan Candi Prambanan (karena masih dalam satu kawasan). Kali ini aku berangkat dari kos pukul 9 pagi. Berbeda dengan rute ke Candi Borobudur yang harus oper bus reyot, transportasi ke Tebing Breksi dan Prambanan jauh lebih simpel dan nyaman, cukup naik Transjogja dari halte Malioboro 2 rute 1-A langsung turun ke halte terminal Prambanan dengan estimasi waktu sekitar 40 menit.
Sesampainya di terminal Prambanan ke Tebing Breksi aku memilih untuk naik ojek, setelah mengeluarkan seluruh skill negosiasiku akhirnya aku berhasil mendapatkan harga yang memuaskan yaitu hanya 15 ribu saja, sementara baliknya dari Tebing Breksi ke terminal Prambanan, aku dapat tumpangan dari seorang wisatawan dari cirebon sebagai balas jasa karena aku beberapa kali memfotokan keluarga mereka. Terimakasi banyak atas tumpangannya pak Prayit dan keluarga ☺. Oh ya, tiket masuk ke Tebing Breksi GRATIS!
Setelah dari Tebing Breksi, aku berencana langsung ke Prambanan tapi sebelum itu aku menyempatkan untuk mencari makan di sekitar pasar Prambanan, sumpah harga makanan disini sungguh tidak masuk akal murahnya, bayangin aja soto daging, nasi dan es teh cuma seharga 10 ribu saja! Setelah perut kenyang barulah aku menuju ke Candi Prambanan. Dari pasar Prambanan ke pintu masuk candi jaraknya sekitar 800 meteran, lagi-lagi bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Sesampainya di loket masuk, aku tergoda untuk membeli tiket masuk terusan yaitu paket Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko seharga 75 ribu dan itu sudah termasuk antar jemput mobil. Dan ini diluar ekspetasiku, awalnya mengunjungi Keraton Ratu Boko tidak ada dalam list ku, tapi berhubung ada paket tur murah, kenapa tidak sekalian aku beli. Jadinya tidak hanya Candi Prambanan tapi aku juga ke Keraton Ratu Boko. Cukup menyenangkan.
Setelah capek berkeliling kompleks Keraton Ratu Boko dan Candi Prambanan yang cukup luas aku pun pulang sekitar jam setengah 4 dan nyampai kos jam 5 an karena jalanan sedikit macet. Seperti hari-hari yang lalu, setelah mandi dan bersih-bersih, aku membunuh waktu sore hingga malam di Malioboro.
Hari ke-4
Hari terakhir di Jogja kuhabiskan untuk menyusuri Malioboro dari ujung ke ujung termasuk keraton, benteng Vredeburg, titik nol hingga Taman Sari (letaknya berderet dan berdekatan). Oh ya, aku juga sempat naik Transjogja ke jembatan Sayidan sebagai tanda respect untuk shaggy dog yang sudah menciptakan lagu di Sayidan yang melegenda itu (tuangkan air kedamaian). Btw untuk tiket keraton dan Taman Sari hanya 5000 saja. Setelah puas berkeliling, aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh; daster batik harga 20 ribu buat ibu, baju batik 25 ribu buat bapak dan pernak-pernik kalung gelan 10 ribu dapat 6 buat adik-adik (jangan lihat harganya, tapi niatnya, maklum backpacker!☺).
Setelah itu aku kembali ke kos, istirahat sejenak dan pada pukul 3 pagi aku check out dari kos dan bergegas menuju stasiun untuk mengejar kereta malabar ke Malang yang berangkat pukul 4 pagi.
So, itu semua pengalamanku solo traveling di Jogja selama 4 hari 3 malam dengan budget 850 ribu. Dan sisa 12.500 sampai hari terakhir.
Hari terakhir di Jogja kuhabiskan untuk menyusuri Malioboro dari ujung ke ujung termasuk keraton, benteng Vredeburg, titik nol hingga Taman Sari (letaknya berderet dan berdekatan). Oh ya, aku juga sempat naik Transjogja ke jembatan Sayidan sebagai tanda respect untuk shaggy dog yang sudah menciptakan lagu di Sayidan yang melegenda itu (tuangkan air kedamaian). Btw untuk tiket keraton dan Taman Sari hanya 5000 saja. Setelah puas berkeliling, aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh; daster batik harga 20 ribu buat ibu, baju batik 25 ribu buat bapak dan pernak-pernik kalung gelan 10 ribu dapat 6 buat adik-adik (jangan lihat harganya, tapi niatnya, maklum backpacker!☺).
Setelah itu aku kembali ke kos, istirahat sejenak dan pada pukul 3 pagi aku check out dari kos dan bergegas menuju stasiun untuk mengejar kereta malabar ke Malang yang berangkat pukul 4 pagi.
So, itu semua pengalamanku solo traveling di Jogja selama 4 hari 3 malam dengan budget 850 ribu. Dan sisa 12.500 sampai hari terakhir.
Jangan takut untuk ber-solo traveling karena dengan berpergian sendirian kamu akan lebih mengenali dirimu sendiri, memahami apa yang kamu butuhkan, apa yang sebenarnya kamu inginkan. Banyaknya waktu sendirian akan membuatmu memahami serta menyadari segala tentangmu. Lalu, dengan solo traveling pula kamu akan mengetahui apa yang sering membuatmu takut dan cara mengatasinya, atau apa saja yang membuatmu tertarik, suka dan mencoba untuk menikmatinya dengan penuh syukur.
Satu lagi, Solo Traveling tidak menjadikanmu seorang ansos (anti sosial), karena justru dengan ber-solo traveling kita akan belajar bersosialisasi dengan orang-orang baru diluar circle kita. Dan itu secara tidak langsung akan melatih respect kita terhadap sesama.







Komentar
Posting Komentar