“Han, dia pergi begitu
saja, setelah menyerap energi dan waktu ku hingga tandas.”
“Kau harus menerima
resiko itu. Kan, sudah jauh-jauh hari kubilang, jangan pernah sekalipun
berurusan dengan manusia hasil evolusi lintah seperti dia, kau saja yang
terlalu keras kepala hingga kupingmu tersumbat akan nasehat-nasehat dari
sekitarmu.”
“Aku sudah kalah, sudah
hampir habis semuanya, hanya tersisa penyesalan dan kesedihan. Apa yang harus
kulakukan sekarang, Han?”
“Kalau kau masih merasa
dirimu sebagai manusia, hal yang sekarang kau risaukan itu adalah normal.
Kalah, penyesalan, dan kesedihan. Semua manusia hidup, akan dan harus
mengalaminya. Dan, tentang apa yang harus kau lakukan sekarang... ah, ya tentu
saja kau harus memulai tersenyum.”
“Hanya orang gila yang
tersenyum disaat kalah dan ditinggalkan.”
“Jangan mengejek orang
gila. Coba lihat dirimu sekarang, otak dan hatimu lebih berantakan dari orang
gila.”
“Aku tau itu, tapi...”
“Sudahlah, lakukan saja... kau harus tersenyum,
karena kau adalah pemenang sebenarnya.”
“Apa maksudmu?”
“Sekian lama kau
dimanfaatkan, itu artinya selama ini kau memberikan manfaat pada orang itu. Hampir
di semua kitab suci mencatat, setiap orang yang memberi manfaat pada orang lain
adalah pemenang, dan sebaliknya orang yang selalu memanfaatkan orang lain
adalah sampah.”
“Masalahnya, aku tidak
percaya kitab suci, Han. Aku atheis.”
Tak ada yang lucu,
namun perkataan Bintang itu membuat Hannah refleks tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang cemerlang. Senyum itu
rupa-rupanya menulari Bintang, laki-laki yang mengaku ‘kalah dan ditinggalkan’
itu tanpa sadar kini ikut tersenyum.
“Yah, setidaknya untuk
urusan memberi senyum kepada orang yang kalah dan ditinggalkan, Tuhan memang
maha adil, baik itu kepada orang yang percaya kepadaNya ataupun yang tidak.
Camkan itu baik-baik, pemenang!,”Hannah menepuk mantap pundah Bintang, lalu
bangkit berdiri dan berlari dalam kegelapan. Meninggalkan Bintang sendirian, bersama dengan sebotol baygon di genggamannya.
Komentar
Posting Komentar