Langsung ke konten utama

Flash Fiction : Pemenang

“Han, dia pergi begitu saja, setelah menyerap energi dan waktu ku hingga tandas.”
“Kau harus menerima resiko itu. Kan, sudah jauh-jauh hari kubilang, jangan pernah sekalipun berurusan dengan manusia hasil evolusi lintah seperti dia, kau saja yang terlalu keras kepala hingga kupingmu tersumbat akan nasehat-nasehat dari sekitarmu.”
“Aku sudah kalah, sudah hampir habis semuanya, hanya tersisa penyesalan dan kesedihan. Apa yang harus kulakukan sekarang, Han?”
“Kalau kau masih merasa dirimu sebagai manusia, hal yang sekarang kau risaukan itu adalah normal. Kalah, penyesalan, dan kesedihan. Semua manusia hidup, akan dan harus mengalaminya. Dan, tentang apa yang harus kau lakukan sekarang... ah, ya tentu saja kau harus memulai tersenyum.”
“Hanya orang gila yang tersenyum disaat kalah dan ditinggalkan.”
“Jangan mengejek orang gila. Coba lihat dirimu sekarang, otak dan hatimu lebih berantakan dari orang gila.”
“Aku tau itu, tapi...”
“Sudahlah, lakukan saja... kau harus tersenyum, karena kau adalah pemenang sebenarnya.”
“Apa maksudmu?”
“Sekian lama kau dimanfaatkan, itu artinya selama ini kau memberikan manfaat pada orang itu. Hampir di semua kitab suci mencatat, setiap orang yang memberi manfaat pada orang lain adalah pemenang, dan sebaliknya orang yang selalu memanfaatkan orang lain adalah sampah.”
“Masalahnya, aku tidak percaya kitab suci, Han. Aku atheis.”
Tak ada yang lucu, namun perkataan Bintang itu membuat Hannah refleks tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang cemerlang. Senyum itu rupa-rupanya menulari Bintang, laki-laki yang mengaku ‘kalah dan ditinggalkan’ itu tanpa sadar kini ikut tersenyum.
“Yah, setidaknya untuk urusan memberi senyum kepada orang yang kalah dan ditinggalkan, Tuhan memang maha adil, baik itu kepada orang yang percaya kepadaNya ataupun yang tidak. Camkan itu baik-baik, pemenang!,”Hannah menepuk mantap pundah Bintang, lalu bangkit berdiri dan berlari dalam kegelapan. Meninggalkan Bintang sendirian, bersama dengan sebotol baygon di genggamannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...