Langsung ke konten utama

Cuma Cerita

Belakangan ini aku sedang familiar dengan nasehat-dan-menasehati-dan-dinasehati. Siklus itu secara nggak langsung sudah membuatku sadar jika  "Memang lebih mudah memberi advice ke orang lain daripada ke diri sendiri"

Sebagai teman yang baik, aku selalu berusaha untuk membantu teman-temanku yang sedang berada dalam problematika kehidupan (haha agak terdengar narsis dan sok baik). Tapi memang begitulah, dari dulu aku memang merasa membantu orang-orang baik dan dekat di sekitarku adalah hal yang sangat penting.

Mungkin dikarenakan sifatku yang responsif berbanding lurus akan sikap orang lain. Maksudnya, kalau orang lain baik kepadaku, aku pasti berusaha supaya bisa sama baiknya, atau bahkan lebih ke orang itu. Begitu juga sebaliknya, kalau orang lain jahat, ya akupun bisa jahat juga. Bahkan bisa lebih jahat berkali-kali lipat. Ya, ini terlihat seperti balas dendam yang menyedihkan, tapi menurutku, itu adalah hak ku untuk merespon. Karena menurutku, setiap orang itu harus tau rasanya membalik perspektifnya sendiri.

Pernah dengar ada orang yang selalu merasa dimanfaatkan, selalu merasa 'dipaksa' untuk mengalah oleh keadaan? yah, intinya orang yang selalu terus menerus menyalahkan segala kemungkinan-kemungkinan yang muncul dalam pikirannya sendiri. Lantas, "apa yang kamu lakukan jika menghadapi situasi semacam itu?"

Kalau aku yang ditanya, aku akan jawab,"merespon dengan hal yang serupa".

Sama halnya dengan orang yang arogan kepadaku. Ya, karena kaulah yang pertama kali memulai hal ini, bersiaplah jika aku melakukan hal yang sama padamu. Cukup adil bukan? menurutku itu namanya pembelajaran, supaya tidak perlu ada yang merasa unfair, baik unfair dalam merasa terus dirugikan atau mempertahankan arogansi sendiri.

Dan aku juga akan menerima kalau orang menghukum saya dengan cara serupa. Namun kedepannya terbesit juga untuk sedikit merubah respon tersebut yaitu dengan cara berusaha menyesuaikan diri, mengakui kesalahanku dan meminta maaf. semoga saja bisa hehe

Tapi kalaupun ada yang tidak setuju dengan ini, tidak masalah. bukankah saling menghargai itu baik?

Kembali kemasalah pokok, yaitu nasehat.

Kenyataannya aku selalu merasa senang kalau aku bisa membantu orang-orang baik di sekitarku walaupun aku harus "ber-pencak silat" dengan waktu dan aktivitasku supaya bisa ada untuk mereka, aku tidak masalah...

Memang kadang-kadang irritating juga sih kalau harus sibuk mengatur ini-itu supaya matched dengan keinginan sendiri. Supaya semua hal penting bisa terselesaikan dengan sedikit banyak kontribusi dari 'tangan saya' dan dari 'niat saya'

Apalagi kalau yang aku bantu itu, finally ends nicely...

Setidaknya aku sudah melakukan bagianku untuk orang-orang itu dan bisa berkontribusi kecil dalam keberhasilan mereka. Betapa kepuasan dan kebahagiaan yag tidak tergantikan!

Jadi ingat, kata-kata bu Ningsih, guru ketrampilan waktu aku kelas 1 SD dulu.

"Bayu, selesaikan dulu anyamanmu sendiri, baru bantu Aisya dengan anyamannya", kata Bu Ningsih kepadaku waktu pelajaran ketrampilan menganyam dimana Aisya teman sebangkuku, sudah hampir menangis karena anyamannya acak-acakan. (dulu waktu kelas 1 SD duduknya diatur cowok-cewek) haha

Melihat Aisya seperti itu, mana bisa aku terus menganyam? akhirnya aku tinggal anyamanku dan aku membantu Aisya,  waktu itu masalahnya, kalau aku tidak salah karena dia tidak rapi mengelem setiap batang anyaman, makanya aku bantu kasih tau bagaimana cara mengelem yang lebih baik, soalnya anyamanku waktu itu so far so good lah.. haha

Tapi mendengar teguran bu Ningsih aku bukannya berhenti membantu Aisya dan meneruskan anyamanku. Aku malah melihat jam di dinding, merasa masih ada cukup waktu untuk membantu Aisya,  dan terus membantunya sambil sesekali bilang,"Jangan nangis ya sya, tak bantuin sampai selesai kok, jangan nangis ya."

*seriusan, sampai saat ini aku masih ingat betul kejadian itu, mungkin itu satu-satunya kejadian SD kelas 1 yang masih kesimpen di otakku.

Begitu melihat Aisya sudah tidak merah matanya (tanda mau menangis), aku kembali menyelesaikan anyamanku dan voila! anyamanku selesai tepat waktu, cukup rapi. Dan begitu aku lihat anyaman Aisya, rapi juga.

"Makasih ya, bay.. punyaku jadi rapi juga!", kata Aisya sambil loncat-loncat senang. Ini mungkin adalah saat pertama dimana aku mulai belajar mengenal kebahagiaan dari membantu seseorang.

Waktu dulu mungkin aku masih bisa mengatasi masalah anyam-menganyamku sendiri. Problem solved kok..

Tapi bedanya, makin kesini hidup ini makin pelik deh haha

Aku semakin handal dalam membantu dan memberi nasehat, memberikan presensi dan kontribusi sebisaku, sementara, masalah sendiri justru melayang-layang minim kejelasan.

Mungkin ini konsekuensi untukku yang selalu ingin produktif dan mencoba hal-hal baru di berbagai bidang yang aku minati. Singkatnya, konsekuensiku yang tidak takut untuk mencoba sesuatu yang baru  sehingga harus ada kerja yang lebih keras.

Nah ini dia nih, aku cukup merasa mampu untuk memberi nasehat ke teman-teman, memotivasi orang baik yang sudah mulai desperate dengan langsung membuktikan lewat tindakan dan kerja keras yang alhamdulillah berbanding lurus dengan teori high risk high return

Tapi, ada aja masalah sendiri yang akhirnya kadaluarsa karena faktor waktu, karena aku terlalu sibuk mengejar kebahagiaan membantu orang-orang di sekitarku, atau terlalu excited memotivasi orang dengan tidakan dan kerja keras yang jelas memakan waktu. Sampai akhirnya, kalau aku sedang sendiri, baru  aku menyadari kalau semuanya sudah jadi expired-unfinished businesses...

Dan akhirnya, all I can do is just.. crying inside dan hanya bisa berkata Jancuk! haha



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...