Langsung ke konten utama

Nasehat Untuk Aku

Untuk aku: 


"Milikilah jiwa yang jujur berbagi karena hati, karena jika itu dimiliki, akan selalu ada harapan untuk hari esok yang lebih baik"

"Saat berbagi, jangan takut harta dan pengetahuanmu habis diserap oleh dunia. Toh, kamupun menyerap energi itu dari dunia juga. Belajarlah dengan rendah hati, dunia tau sipa yang pantas berhasil"

"Kendalikan rasa bangga, tanpa berteriak-teriak ke seluruh indera, pun yang berharga pasti mampu bersinar dengan sendirinya. Tundukkan euphoria, rayakan seperlunya. Ingatlah, pembenci seringkali muncul saat kamu terlalu nyaman mencintai diri sendiri; lupa bahwa sekitar memiliki titik iri di hati"

"Jangan pernah suka untuk dibenci, namun abaikan pembenci yang belum paham, bahwa sinar ini berpendar dengan banyak daya, banyak usaha dan banyak doa. Hadapi dengan kerendahan hati dan pikiran terbuka, mereka menyelesaikan masalah dengan lebih berkelas"

"Gunakan semua indera yang Tuhan berikan padamu. Lihat, dengar, rasakan, hirup aromanya. Semesta ini adalah sumber dari semua pencarian. Kepala dan hati batu selalu berhasil menjadi dinding semu yang mematikan indera; seakan semua sumber itu tidak pernah ada"

"Definisikan kebahagiaan dengan sederhana, jadilah pribadi baik yang berhasil menjadi manusia berguna. Banyak yang kecewa karena tak bisa berkompromi dengan rencana sendiri, hingga banyak yang berhasil berada di langit sana, dengan banyak menyakiti, banyak pula kehilangan"

Dan terakhir, tak perlu takut kompetisi. Kompetisi hanya ajang pencarian pemenang dan penyisihan sang kalah. Tak usah bersedih terlalu hebat jika kau sampai kalah berkali-kali, sebab kemenangan sejatinya adalah akumulasi dari kekalahan-kekalahan sebelumnya. Tetaplah menjadi pribadi yang optimis hingga sampai saat kau akan jadi pemenang; Pemenang dalam bagiannya masing-masing dan pada waktunya masing-masing.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...