Langsung ke konten utama

Kejutan

“Nggak semua orang suka kejutan” benarkah?

Jadi begini, orang suka kejutan cuma kalau kejutan itu enak dirasain. Orang yang bilang nggak suka kejutan akan tetap senang kalau dia dikejutkan hal-hal menyenangkan. Orang yang suka kejutan bakalan bete kalau dapat kejutannya nggak ngenakin buat dia. Intinya, manusia banyak maunya.

Tapi, siapa yang paling piawai ngasih kejutan? jawabannya adalah Hidup!

Menurutku, hidup adalah hal paling antimainstream yang diciptakan Tuhan. Seringkali, kita sebagai manusia kita sering merasa sok tau, sok menyusun semuanya, sok memperhitungkan kalau begini akan jadi gimana, kalau begitu akan jadi dimana, dan sok sebagainya.

Waktu kecil, aku pernah jatuh dari pohon cuma gegara pengen niruin gaya smack down ala Rey Misterio, pernah juga diomelin ibu gara-gara nyebur ke got depan rumah cuma karena penasaran gimana rasanya nangkep cacing merah pake tangan. Yang paling klise, digampar bapak karena ketahuan ngerokok pas masih SMP.

Tak terhitung lagi sudah berapa kali aku jatuh, dimarahin dan digampar. Tapi anehnya, aku justru merasa puas sebab sudah melakukan hal-hal tadi karena aku penasaran, aku pengen tau, dan aku puas karena akhirnya aku tau dan dapat kejutan-kejutan berharga dari apa yang udah aku lakuin. Dan meski udah dikasih tau, udah diomelin, udah kena batunya, dalam beberapa kasus aku nggak berhenti melakukannya. Ketika si perencana, orang-orang dengan logika normal, dan bahkan para cendekiawan menganggap rencana itu 100% akan berjalan seperti yang diperkirakan, hidup mengubah bahwa yang pasti itu 101%

"Ketika yang kamu yakini pasti, hidup selalu menambah 1% kemungkinan untuk membuatnya tidak pasti"

Dan 1% bagi sang hidup, sudah cukup untuk mengubah semuanya, memberikan kejutan, menasbihkan dirinya anti mainstream dengan nggak berpikiran sama seperti orang-orang. Ketika itu terjadi, Kita, orang-orang mainstream cuma bisa diam, terpukau, dan (orang-orang yang cerdik akan) belajar.

Sama halnya seperti jatuh cinta. Sama juga seperti belanja. Jatuh cinta dan belanja adalah bagian dari cerita kehidupan. Aku ingat suatu hari pernah diminta seorang temen buat nemenin dia beli sepatu di mall. Sebelumnya aku mengomelinya agar tidak terlalu boros, namun temanku tidak mendengarkan. Sesampainya di toko sepatu temanku tidak jadi beli karena model sepatu disana tidak ada yang cocok dengan seleranya, walhasil dia mengajakku pulang. Namun, aku menolak, ada sepasang sepatu yang menarik perhatianku, sepasang sepatu yang sudah lama aku ingin beli namun stoknya selalu habis.

Dan pada akhirnya akulah yang membeli sepatu baru, bukan temanku.

Kadang kita terlalu sok tau untuk ngedahuluin hidup. Cerita diatas itu adalah contoh kesotoyanku waktu aku mengomeli temanku untuk tidak boros. padahal akhirnya justru aku yang beli sepatu baru. Hidup memang penuh kejutan.

Soal jatuh cinta, kadang ketika kita pingin jatuh cinta, nyari orang lain untuk dijadiin gebetan atau pacar, malahan nggak dapet-dapet. Sekalinya ada yang mau, ya nggak klop, dan lain-lain. Tapi ketika nggak lagi ngapa-ngapain, hidup melakukan hal antimainstream lagi, berbeda jalan pikiran dengan orang-orang biasa dengan pikiran mainstream yang mikir "Ah lagi nggak ngapa-ngapain mana bisa jatuh cinta." 

Kemudian semua itu dipatahkan gitu aja.

Ketika kamu ada disuatu situasi yang biasa-biasa saja, sama seseorang yang (tadinya) biasa-biasa saja, tiba-tiba ada hal kecil yang menurut orang lain itu biasa, tapi saat itu kalian rasa itu istimewa. Lalu kalian jatuh cinta. Mamam deh. Itulah yang kubilan "Jatuh cinta tidak sengaja"

Kadang aku mikir kalau jatuh cinta itu kayak belanja, dimana yang nggak sengaja justru lebih berbaha(g)ya. Belanja yang nggak sengaja itu berbahaya karena bikin jebol tabungan karena harus ngeluarin biaya tak terduga, tapi sekaligus juga bikin berbahagia karena nemu yang dicari ketika nggak nyari-nyari amat. Jatuh cinta juga gitu.

Yang pasti, masih banyak ketidaksengajaan-ketidaksengajaan lain yang udah disiapin hidup buat dihadirkan di kehidupan kita masing-masing. Aku rasa justru kita nggak usah mempersiapkan diri amat untuk ketidaksengajaan itu. Terkejut itu ternyata menyenangkan.

Kejutan hidup adalah bentuk nyata dari 'ujian dadakan' yang selama ini dikeluarin guru/dosen. Dalam urusan hidup, kalaupun menyebalkan, kejutan itu bikin kita belajar.

"Hidup cuma sekali, tapi terkejutlah berkali-kali"

Terakhir,

"you only live once, but you better only love one, cuk"







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...