Akhirnya, aku menyadari jika dendam
dan kebencian adalah nama lain egoisme yang enggan diakui.
Padanya kita berharap bahwa rasa
sakit yang kita rasakan sendiri akan menemukan pembalasannya sendiri. Tapi
tuhan yang menggunggu untuk tau, tidak semua dendam dan kebencian harus
dibalas. Barangkali segala negativitas yang dipelihara tadi hanyalah melulu rasa
kekanak-kanakan.
Ia seharusnya diakhiri tapi
alih-alih bersikap dewasa kebanyakan dari kita, ah tidak, aku sendiri
misalanya, merasa harus memeliharanya. Bahwa dendam dan kebencian tadi adalah
yang membuat hidup. Membuatku berarti. Membuatku mengerti bahwa kebaikan tak
selalu dibalas dengan kebaikan.
Cinta kasih tak selalu berjalan
linier dan mengalami timbal-balik. Tapi ada kalanya, tidak sering, ada saat
dimana kita benar-benar merasa sunyi, benar-benar merasa takut dalam sendiri,
benar-benar tak bisa bertahan lagi. Bahwa rindu yang menahun ditahan ini harus
diutarakan. Bahwa kebersamaan yang sekian tahun itu menunggu disegarkan. Lewat
segelas bir di sebuah bar kecil atau sekedar menikmati sepiring ayam pedas
berbumbu santan.
Melankolia menemukan jalan pulang
sendiri melalui ingatan-ingata yang semena-mena datang tanpa ijin. Ia menyaru
rupa kebencian dengan rindu yang teramat sangat. Kita tahu. Ah tidak, akulah
yang tahu.
Pada malam musim panas
bintang-bintang bersinar terang dengan segala macam makna yang kita
bikin-bikin. Bahwa, jika bintang ini bertaut dengan bintang itu, ia adalah rasi
bintang orion. Namun jika bintang itu terletak di sekitaran bintang ini dan
sejajar dengan bintang ini-itu, ia adalah rasi bintang utara.
Kita selalu memberi nama-nama agar
kita bisa memelihara ingatan, karena tanpa nama, ingatan tidak berarti apapun.
Ia hanya montase dari sekian detik film kenangan dalam hidup kita. Ia bisa jadi
nisbi hanya dengan "mengada". Sisanya hanyalah sekedar omong kosong
pelik dalam perbincangan penuh basa-basi.
Aku belajar tidak menyerah pada
kerendahan hati. Masa lalu mengajarkanku, dengan cara paling menyakitkan, bahwa
hidup bukanlah pelik gincu dan pupur bedak. Ia bisa jadi pengkhianatan, ah
tidak tepat juga menyebutnya pengkhianatan, barangkali aku saja yang terlalu
tinggi hati. Kita sebut saja itu persaingan yang aku sebagai peserta kalah
dengan paripurna. Lantas sebagai pecundang memusuhi dan menyalahkan dunia atas
kelemahanku sendiri. Ya, kata kuncinya adalah kelemahanku sendiri.
Aku belajar untuk tidak lemah pada
sikap baik. Barangkali menjadi bedebah dan tidak menyerah pada hidup adalah
cara paling baik menjadi penyintas. Pada dunia yang sempurna dimana setiap
rindu akan dibalas, setiap perasaan akan digenapi dan setiap cinta akan
ditanggapi. Tapi melulu berharap pada dunia yang sempurna akan membuat kau dan
aku, juga mungkin beberapa ratus juta jiwa kesepian di luar sana akan meratapi
kesendirian. Aku tahu itu. Aku merasakan itu.
Aku saat ini dalam kebencian dan
dendam yang brutal, selalu berharap sebelum akhirnya memutuskan untuk melawan.
Tidak lagi berharap. Tapi kemudian melanjutkan hidup. Meletakkan kenangan pada
tempatnya dan lantas berjalan tegak lebih jauh
Komentar
Posting Komentar