Langsung ke konten utama

Meracau

Akhirnya, aku menyadari jika dendam dan kebencian adalah nama lain egoisme yang enggan diakui.

Padanya kita berharap bahwa rasa sakit yang kita rasakan sendiri akan menemukan pembalasannya sendiri. Tapi tuhan yang menggunggu untuk tau, tidak semua dendam dan kebencian harus dibalas. Barangkali segala negativitas yang dipelihara tadi hanyalah melulu rasa kekanak-kanakan.

Ia seharusnya diakhiri tapi alih-alih bersikap dewasa kebanyakan dari kita, ah tidak, aku sendiri misalanya, merasa harus memeliharanya. Bahwa dendam dan kebencian tadi adalah yang membuat hidup. Membuatku berarti. Membuatku mengerti bahwa kebaikan tak selalu dibalas dengan kebaikan.

Cinta kasih tak selalu berjalan linier dan mengalami timbal-balik. Tapi ada kalanya, tidak sering, ada saat dimana kita benar-benar merasa sunyi, benar-benar merasa takut dalam sendiri, benar-benar tak bisa bertahan lagi. Bahwa rindu yang menahun ditahan ini harus diutarakan. Bahwa kebersamaan yang sekian tahun itu menunggu disegarkan. Lewat segelas bir di sebuah bar kecil atau sekedar menikmati sepiring ayam pedas berbumbu santan.

Melankolia menemukan jalan pulang sendiri melalui ingatan-ingata yang semena-mena datang tanpa ijin. Ia menyaru rupa kebencian dengan rindu yang teramat sangat. Kita tahu. Ah tidak, akulah yang tahu.

Pada malam musim panas bintang-bintang bersinar terang dengan segala macam makna yang kita bikin-bikin. Bahwa, jika bintang ini bertaut dengan bintang itu, ia adalah rasi bintang orion. Namun jika bintang itu terletak di sekitaran bintang ini dan sejajar dengan bintang ini-itu, ia adalah rasi bintang utara. 

Kita selalu memberi nama-nama agar kita bisa memelihara ingatan, karena tanpa nama, ingatan tidak berarti apapun. Ia hanya montase dari sekian detik film kenangan dalam hidup kita. Ia bisa jadi nisbi hanya dengan "mengada". Sisanya hanyalah sekedar omong kosong pelik dalam perbincangan penuh basa-basi.

Aku belajar tidak menyerah pada kerendahan hati. Masa lalu mengajarkanku, dengan cara paling menyakitkan, bahwa hidup bukanlah pelik gincu dan pupur bedak. Ia bisa jadi pengkhianatan, ah tidak tepat juga menyebutnya pengkhianatan, barangkali aku saja yang terlalu tinggi hati. Kita sebut saja itu persaingan yang aku sebagai peserta kalah dengan paripurna. Lantas sebagai pecundang memusuhi dan menyalahkan dunia atas kelemahanku sendiri. Ya, kata kuncinya adalah kelemahanku sendiri.

Aku belajar untuk tidak lemah pada sikap baik. Barangkali menjadi bedebah dan tidak menyerah pada hidup adalah cara paling baik menjadi penyintas. Pada dunia yang sempurna dimana setiap rindu akan dibalas, setiap perasaan akan digenapi dan setiap cinta akan ditanggapi. Tapi melulu berharap pada dunia yang sempurna akan membuat kau dan aku, juga mungkin beberapa ratus juta jiwa kesepian di luar sana akan meratapi kesendirian. Aku tahu itu. Aku merasakan itu.

Aku saat ini dalam kebencian dan dendam yang brutal, selalu berharap sebelum akhirnya memutuskan untuk melawan. Tidak lagi berharap. Tapi kemudian melanjutkan hidup. Meletakkan kenangan pada tempatnya dan lantas berjalan tegak lebih jauh





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...