Langsung ke konten utama

Tak Jadi Diam

Ada kalanya, keterbukaan informasi justru membuat manusia menjadi pribadi yang suka bicara dan gaduh. Dan sialnya, aku termasuk salah satu manusia yang ikut terbawa arus negativisme itu. Jancuk!
Belakangan ini aku merasa menjadi terlalu responsif bila bicara mengenai apapun, walaupun terkadang tidak membawa manfaat atau kebaikan apapun. Sering juga aku tiba-tiba menjadi pengamat dadakan yang tak segan mengunggah komentar, tanggapan, atau wacana atas berbagai peristiwa dan kejadian diluar batas keilmuan yang aku kuasai tiap kali berdiskusi suatu topik yang sedang viral bersama teman.
Peribahasa lidah tak bertulang sepertinya cocok menjadi gambaran tajam dan lenturnya mulutku dalam berbicara. Mungkin tabiatku ini sudah terpengaruh oleh anarkisme yang terjadi di sosmed, saling ejek dan perang kata-kata kasar yang sudah tak terhitung jumlahnya.
Di satu sisi, aku sama sekali tak mempermasalahkan anarkisme itu, sebab aku sendiripun adalah tipikal orang yang menuntuk kebebasan berbicara dengan alasan menghargai kebebasan berpendapat. Tapi di lain sisi, aku juga menyadari jika kebebasan tersebut justru tampak liar: pendapat atau pernyataan yang dilontarkan tidak sesuai dengan realitas alias mengada-ada. Hal itu menimbulkan sesuatu yang ganjil di benakku.
Betapa belakangan ini aku sudah melupakan arti penting diam atau menahan diri di balik karut-marut sebuah persoalan. Tak lagi dapat melakukan koreksi diri, sekaligus kontemplasi guna mendudukkan posisi dan impikasi dari kata-kata yang di produksi. Yang penting kemudian adalah ngomong sebanyak-banyaknya.
Yah, sepertinya aku mulai lupa, atau pura-pura lupa jika seseorang akan tampak lebih indah jika berpaku kepada sedikit ucapan berkelas daripada segudang ucapan omong kosong.
Sepertinya, mulai saat ini aku harus banyak-banyak belajar lagi. Belajar melihat persoalan dengan lebih jernih, mengolah dan menganalisisnya lewat batin dan pikiran. Belajar tidak terburu-buru dalam berkata atau mengomentari sesuatu agar tidak menimbulkan fitnah baru dan dosa.
Yah, ada baiknya aku akan mencoba untuk diam, entah bisa tahan sampai berapa lama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Boikot yang Salah Sasaran: Kita Marah ke TV, Bukan ke Realita

Beberapa hari terakhir, timeline ig rame banget. Semua orang tiba-tiba ngomongin satu hal: boikot Trans7 . Awalnya aku cuma scroll lewat dan tidak terlalu peduli sebab kupikir kasus boikot begini kan udah sering banget. Tapi setelah nonton videonya, aku sedikit paham kenapa netizen-netizen itu pada ngamuk. Video itu menampilkan adegan para santri yang menunjukkan rasa hormat berlebihan kepada kiainya, bahkan tampak seperti sedang memuja. Lalu diselipkan narasi yang dianggap “menghina kiai” dan “memojokkan pesantren sebagai tempat penuh feodalisme.” Dari situ, ledakan emosi pun terjadi. Namun, di tengah keramaian itu, aku justru merasa perlu bertanya: Benarkah yang salah hanya videonya? Atau jangan-jangan, video itu justru memantulkan realitas yang sudah lama kita remehkan atau bahkan kita abaikan? Aku bukan alumnus pesantren, dan bukan pula ahli agama. Tapi sebagai orang awam, aku tahu satu hal: Islam tidak mengajarkan pemujaan berlebihan terhadap sesama makhluk . Menghormati guru it...

Kotak Pandora Modern itu bernama Politik Praktis

Belakangan ini, ada saat-saat di mana pikiranku tentang politik praktis hadir begitu berat. Hampir setiap hari kulihat dari layar televisi hingga media sosial, dari berita dalam negeri hingga kabar luar negeri, yang tersaji seolah tak pernah berubah: kasus korupsi, ketidakpekaan pemimpin terhadap kondisi rakyatnya, hingga arogansi para wakil rakyat. Dari hari ke hari, rasanya yang tersaji hanyalah potret kekecewaan yang membuat kepercayaan semakin rapuh. Dalam situasi itulah, aku jadi menggambarkan politik praktis saat ini dengan kotak pandora. Sebuah kotak misteri yang menggoda untuk dibuka. Dari luar, ia menjanjikan sesuatu yang indah: sebuah harapan bernama nirwana. Nirwana itu berupa kesejahteraan, keadilan, keteraturan, dan cita-cita besar bernama perubahan. Namun, begitu kotak itu dibuka, yang berhamburan justru sembilan puluh sembilan bencana yang seolah menelan habis satu-satunya harapan itu. Ya, kita sama-sama tau jika politik praktis sering tampil dengan kemasan menggoda. Seo...

Kembali Pulang

  Haloooo, I’m back! Gila, udah lima tahunan blog ini nganggur. Bukan karena males nulis, tapi karena satu kejadian konyol ga masuk akal: aku lupa password email lama. Iya, lupa password . Ironis? Tenang, ini baru pemanasan. Sebenarnya aku ahli dalam selective memory . Otakku ini suka banget lupa hal penting, tapi hafal detail yang nggak guna. Contohnya: aku bisa lupa password, tapi ingat jelas harga rokok Surya sebatang di tahun 2012. Kalau ada lomba memori aneh, aku juaranya. Tolol? Boleh dibilang begitu. Waktu awal lupa, aku berusaha seperti hacker amatir yang desperate : coba semua kombinasi yang layak dicoba, mulai dari nama sendiri, nama keluarga, nama mantan (maaf, mantan), tanggal lahir, sampai password sejuta umat: “1234567”. Hasil? Nihil. Blog tetap terkunci, sampai akhirnya waktu itu aku menyerah, menerima nasib, dan blog pun jadi museum tulisan yang tak pernah dibuka sejak saat itu. Lalu pagi ini ketika bangun tidur password itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Uda...