Ada kalanya, keterbukaan informasi justru membuat manusia menjadi pribadi yang suka bicara dan gaduh. Dan sialnya, aku termasuk salah satu manusia yang ikut terbawa arus negativisme itu. Jancuk!
Belakangan ini aku merasa menjadi terlalu responsif bila bicara mengenai apapun, walaupun terkadang tidak membawa manfaat atau kebaikan apapun. Sering juga aku tiba-tiba menjadi pengamat dadakan yang tak segan mengunggah komentar, tanggapan, atau wacana atas berbagai peristiwa dan kejadian diluar batas keilmuan yang aku kuasai tiap kali berdiskusi suatu topik yang sedang viral bersama teman.
Peribahasa lidah tak bertulang sepertinya cocok menjadi gambaran tajam dan lenturnya mulutku dalam berbicara. Mungkin tabiatku ini sudah terpengaruh oleh anarkisme yang terjadi di sosmed, saling ejek dan perang kata-kata kasar yang sudah tak terhitung jumlahnya.
Di satu sisi, aku sama sekali tak mempermasalahkan anarkisme itu, sebab aku sendiripun adalah tipikal orang yang menuntuk kebebasan berbicara dengan alasan menghargai kebebasan berpendapat. Tapi di lain sisi, aku juga menyadari jika kebebasan tersebut justru tampak liar: pendapat atau pernyataan yang dilontarkan tidak sesuai dengan realitas alias mengada-ada. Hal itu menimbulkan sesuatu yang ganjil di benakku.
Betapa belakangan ini aku sudah melupakan arti penting diam atau menahan diri di balik karut-marut sebuah persoalan. Tak lagi dapat melakukan koreksi diri, sekaligus kontemplasi guna mendudukkan posisi dan impikasi dari kata-kata yang di produksi. Yang penting kemudian adalah ngomong sebanyak-banyaknya.
Yah, sepertinya aku mulai lupa, atau pura-pura lupa jika seseorang akan tampak lebih indah jika berpaku kepada sedikit ucapan berkelas daripada segudang ucapan omong kosong.
Sepertinya, mulai saat ini aku harus banyak-banyak belajar lagi. Belajar melihat persoalan dengan lebih jernih, mengolah dan menganalisisnya lewat batin dan pikiran. Belajar tidak terburu-buru dalam berkata atau mengomentari sesuatu agar tidak menimbulkan fitnah baru dan dosa.
Yah, ada baiknya aku akan mencoba untuk diam, entah bisa tahan sampai berapa lama.
Komentar
Posting Komentar